DEGRADASI MORAL PJJ DITENGAH SHOCK PANDEMI COVID19

 Oleh : Khoirul Anwar, S.Pd

          


Baiklah sahabat literasi, kali ini saya ingin menguraikan pemikiran sayaberkaitan dengan dunia pendidikan.  Pendidikan
 merupakan aspek penting dan cukup krusial bagi kemajuan suatu bangsa, pendidikan merupakan sebuah ruang dimana kita mempertaruhkan masa depan kita sendiri, apakah mampu menguasai zaman atau kita yang tergerus oleh zaman. Apa kita mampu meraih keberhasilan ataukah kemunduran, bahkan bisa jadi sebagai pecundang ditengah kemajuan. Ya, pilihan itu ada ditangan kita semua. Mau menjadi manusia yang bermoral atau amoral..

 

Pendidikan merupakan sebuah sarana yang sangat menggoda untuk menjadi sasaran dari bidang lain, seperti hal nya ekonomi dan juga politik. Dua bidang ini tidak pernah terlepas dari ranah pendidikan, dimana politik berfungsi sebagai pengatur dari luar lewat keputusan-keputusan atau kebijakan yang diberikan dengan menguntungkan sebelah pihak saja dan aspek ekonomi berfungsi sebagai pihak yang menerima output guna memperlancar serta meloloskan apa yang ada. Jika dilihat, rantai antara politik-pendidikan-ekonomi seperti halnya rantai input-proses-output, para peserta didik diproses guna menjadi pekerja-pekerja pabrik tanpa bisa mengembangkan kreatifitas yang mereka miliki. Pendidikan yang ada sekarang ini, khususnya di Indonesia, memaksa para murid nya untuk dapat mempelajari semua mata pelajaran dan juga mereka harus bisa mengembangkan minat dan bakat mereka di waktu yang bersamaan, seperti hal nya menilai keberhasilan hiu memanjat pohon atau menyuruh kucing untuk dapat terbang.

Pada akhir tahun 2019, dunia dihebohkan dengan kemunculan kasus virus baru yang dengan cepat menyebar dan menjadi pandemi. Seluruh dunia merasakan kecemasan yang sangat luar biasa dan pada awal 2020 lebih tepatnya awal maret 2020, virus tersebut memasuki Indonesia, yang menciptakan kepanikan masal dan juga panic buying.

Keadaan semakin diperparah dengan banyaknya kemunculan kasus baru, hal ini terjadi karena rendahnya kewaspadaan masyarakat Indonesia, akibat yang ditimbulkan dari pandemi ini pun cukup serius, mulai dari korban jiwa yang semakin hari semakin bertambah, serta aspek-aspek lainnya pun mengalami dampak yang signifikan, seperti contohnya ekonomi, banyak sekali dari berbagai lapisan masyarakat yang merasakan dampaknya, masyarakat miskin yang kehilangan pekerjaan, banyak perusahaan-perusahaan retail yang gulung tikar akibat pandemi, dan tidak sedikit juga masyarakat yang menggunakan momen ini untuk kepentingan pribadi seperti hal nya penimbun masker yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Tidak terkecuali aspek pendidikan yang juga terkena dampak dari pandemi ini dan cukup membuat culture shock bagi sebagian masyarakat, khususnya masyarakat kelas bawah. Banyak masyarakat kelas bawah yang merasa terbebani dengan hadirnya PJJ yang seharusnya menjadi solusi pada saat pandemi seperti ini, ditambah lagi dengan aspek ekonomi yang terdampak, membuat mereka harus mengeluarkan biaya ekstra dalam pemenuhan kuota internet dan juga apabila mereka tidak memiliki gawai / perangkat elektronik yang mendukung, maka mereka harus membeli terlebih dahulu atau merelakan tidak mengikuti PJJ.

Kemunculan musuh mematikan namun tak terlihat bernama  Covid 19 ini berdampak pada kegiatan belajar-mengajar di berbagai tingkat lembaga pendidikan. Baik sekolah maupun madrasah yang semula tatap muka di kelas, bergeser menjadi pendidikan jarak jauh (PJJ) dalam jaringan (daring) dengan sistem online (langsung) maupun offline (tunda). Pembelajaran jarak jauh memang bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Pada tahun 2012 Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah mengatur hal ini sesuai dengan Permendikbud Nomor 24 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh. Pendidikan jarak jauh adalah proses belajar mengajar yang dilakukan secara jarak jauh melalui penggunaan berbagai media komunikasi (Permendikbud No. 109/2013.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat terdampak dengan adanya wabah Covid-19 ini. Pemerintah dan tenaga pendidik berusaha semaksimal mungkin agar pendidikan bisa berjalan dengan baik walaupun dengan keadaan pandemi seperti ini. Pada kondisi pandemi Covid-19 ini pemerintah menetapkan Pendidikan Jarak Jauh atau PJJ, PJJ adalah upaya agar pembelajaran bisa dijalankan dengan baik walaupun menggunakan sistem yang berbeda dari biasanya.

Bagi masyarakat Indonesia PJJ merupakan sebuah terobosan yang belum siap disebar luaskan di kalangan masyarakat Indonesia, padahal hal ini sudah umum untuk melakukan pembelajaran tanpa tatap muka di luar negeri, dan juga tidak dapat kita hindari lagi bahwa pembelajaran tanpa tatap muka pun memang diperlukan walaupun tanpa adanya pandemi ini. Karena ini merupakan kemajuan dari arus teknologi yang tidak dapat kita hindari..

Kehadiran PJJ membuat banyak sekali perubahan-perubahan pada dunia pendidikan, mulai dari penyesuaian kurikulum hingga sampai pelatihan kembali penggunaan media sosial untuk media pembelajaran seperti zoom, google meet, microsoft team, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini juga menimbulkan beberapa dampak positif maupun negatif, yang positif diantaranya mudah diakses secara online, waktu untuk review tugas menjadi lebih lama, karena tidak ada batasan waktu seperti tatap muka di kelas. Selama masa pandemi ini pun banyak sekali instansi maupun perorangan membagikan e-book secara gratis sehingga siswa dapat mengakses e-book tersebut untuk membaca dan dapat membantu mengerjakan tugas. Untuk mahasiswa pun e-book ini sangat membantu, karena mahasiswa dapat mengakses jurnal-jurnal online untuk membantu mereka mengerjakan tugas. Dampak negatif, seperti halnya, para murid sangat dipaksa untuk menghabiskan sebagian besar waktunya untuk terus menatap layar gawai, laptop dan juga komputer, serta mengerjakan tugas yang hampir semuanya butuh penggunaan gawai, dan juga barang elektronik lainnya, hal ini membuat murid semakin ketergantungan akan gawai, mereka menjadi sukar untuk lepas dan juga melaksanakan diet gawai, serta orang tua juga harus kerja ekstra untuk memantau apa saja yang dilakukan anaknya, apakah mereka memang benar-benar belajar atau membuka media sosial lainnya, atau bahkan bermain game.

kesulitan selama penerapannya. Banyak sekali siswa terlebih orang tua mengeluh tentang pelaksanaan PJJ ini. Menurut siswa PJJ bukan Pendidikan Jarak Jauh melainkan Penugasan Jarak Jauh. Selama PJJ di masa pandemi ini banyak siswa \yang mengeluh mengenai tugas yang diberikan oleh guru dan dosen, tugas ini dirasa sangat membebani mereka di masa pandemi. Orang tua pun banyak yang mengeluh mengenai PJJ karena banyak tugas yang membingungkan dan tidak dimengerti siswa sehingga orang tua harus turun tangan langsung.

Kendala PJJ lainnya adalah sinyal internet, banyak siswa yang tinggal di daerah yang cukup sulit jangkauan sinyal, sehingga ini menyulitkan mereka untuk melakukan PJJ. Kendala lainnya adalah banyak siswa yang tidak memiliki gawai, komputer, dan laptop sehingga ini cukup menyulitkan dalam pelaksanaan PJJ.

 

Itu baru dari sisi murid dan orang tua, para guru pun harus menyesuaikan kembali pembelajaran berbasis gawai, mereka harus belajar lagi cara menggunakan dan mengoperasikan media-media yang bisa digunakan dan hal ini berdampak kepada perubahan pola dan gaya belajar, yang tadinya mungkin sudah sesuai dengan apa yang kita inginkan yaitu student sentris sekarang kembali menajadi teacher sentris atau semi- teacher sentris. Pendidikan yang kembali menjadi berpusat kembali kepada guru ini bisa disebabkan karena berbagai faktor, seperti; guru yang terlalu mendominasi, murid yang enggan untuk bertanya / menyampaikan, guru yang tidak melibatkan muridnya untuk dapat ikut serta, dan masih banyak hal lainnya.

Walaupun terdapat kelebihan dan kekurangan dalam pelaksanaan PJJ, tapi pendidikan harus tetap dijalankan sesuai dengan keadaan yang sedang terjadi, karena tidak mungkin apabila pendidikan harus dihentikan. Maka dari itu, kita sebagai siswa maupun pengajar harus melaksanakan PJJ sebaik mungkin agar pelaksanaan pendidikan tetap berjalan dengan baik dan juga semoga pandemi Covid-19 segera berakhir agar pendidikan bisa berjalan seperti sebelumnya. Setelah pandemi ini berakhir pun PJJ bisa menjadi salah satu metode pembelajaran alternatif yang digunakan untuk pelaksanaan belajar mengajar.

belajar di rumah juga bisa menimbulkan perasaan terkucilkan, karena tidak bertemu dan tidak berinteraksi sosial dengan siswa lainnya. Sehingga makin sulit mengidentifikasi siswa yang tertinggal. "Ini bisa menjadi bom waktu yang bisa meledak setiap saat kalau kita tidak bisa mengidentifikasi siswa yang tertinggal, dan yang terparah adalah ketika anak didik tersebut menjadi disosiatif bahkan berdampak pada karakter mereka. Terutama moralitas yang terdegradasi".

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, degradasi moral dapat diartikan sebagai kemunduran, kemerosotan, penurunan. Sehingga dapat diartikan degradasi moral adalah kemerosotan atau lunturnya nilai dan moral yang berlaku di dalam masyarakat. Degradasi moral ini adalah sekmen yang paling terpengaruh akibat ketidaksiapan pjj ditengah ledakan pandemi covid19. Bagaimana tidak pembelajaran yang selama ini dilakukan secara tatap muka oleh pendidik harus dilakukan melalui virtual yang hanya mengedepankan transfer knowledge tanpa menghiiraukan pembentukan karakter yang selama ini dibangun oleh pemerintah dalam kurikulum. Karakter tersebut dibangun melalui system yang terbangun dan diterapkan oleh pemerintah pusat, daerah dan satuan pendidikan yanga ada. Mulai dari segi spriritualitas hingga kehidupan bermasyarakat. Semua sirna ketika mulai diberlakukannya sistem PJJ. Pembangunan karakter religious, nasionalis, mandiri, gotong royrong dan integritas yang sesuai nilai-nilai pancasila sekarang mulai surut dan bahkan tersisihkan. Pendidikan karakter tersebut yang biasanya didapatkan dikelas secara langsung melaului pembiasaan dan tauladan dari pendidik harus tergantikan dengan dunia maya yang minim pengawasan. Apapun bisa saja terjadi dalam PJJ, seperti ketidakjujuran dalam pengerjaan tes, tidak menggunakan seragam pada semestinya, tidak memerhatikan pelajaran, fokus yang hilang, bahkan main game online atau melihat situs yang tidak pantas bisa saja dilakukan oleh siswa. Hal-hal semacam ini harus segera ditangani oleh pemerhati pendidikan. Ingat kata pepatah “ akhlaq dulu baru ilmu”, secara tidak sadar memang dunia pendidikan dituntut untuk maju dan mengikuti perkembangan teknologi namun disisi lain hal yang paling utama yaitu pembentukan karakter generasi penerus bangsa itu jauh lebih penting, sehingga para siswa memiliki moral yang baik dan berprestasi.

Menurut Freire konsep pendidikan harus terbuka pada pengenalan realitas diri atau praktek pendidikan harus mengimplikasikan konsep tentang manusai dan dunianya, agar manusia menjadi diri sendiri[1]. Freire juga mengkritik model pendidikan tradisional sebagai pendidikan gaya bank[2]. Menurutnya, ini merupakan pendidikan yang tidak kritis, karena mematikan kreativitas murid-murid serta tidak menghadapkan pada permasalahan yang sebenarnya.[3]

Pada akhirnya PJJ menjadi tantangan tersendiri bagi kita saat ini, antara dari pihak guru, pemerintah, dan juga murid. Kita semua berusaha menghadirkan inovasi -- inovasi dalam pelaksanaan PJJ tetapi hal ini harus diperhatikan kembali, jangan sampai apa yang kita jadikan acuan untuk membangun inovasi, membuat sistem pendidikan yang berusaha melakukan revolusi mental melaului penanaman karakter tersingkirkan.

Hadirnya PJJ kedalam lingkup kehidupan kita menjadikannya sebuah ladang baru yang bisa kita gunakan untuk mengkreasikan segala macam bentuk-bentuk pembelajaran dan menemukan sistem pembelajaran yang baru dimana, walaupun kita tidak bertatap muka secara langsung, keakftifan serta kreativitas siswa tidak boleh mati. Siswa juga harus ikut serta mengambil andil dalam kelas agar berbagai pihak dapat memberikan sebuah gambaran-gambaran hal seperti apa yang memang ia inginkan atau hal seperti apa yang masih bisa diubah atau dikembangkan lebih dalam dan lebih jauh lagi. PJJ bukan berarti kita harus kembali kepada teacher sentris yang hanya transfer knowledge , Namun juga harus memperhatikan pembentukan moral melalui pendidikan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila.

Comments

Popular Posts